“Apa syaratnya, Mas?” tanyaku penasaran. Bokeb Ternyata Bondan tidak seburuk yang kubayangkan, memang matanya terkesan liar dan seakan mau melahap seluruh tubuhku, tetapi sikapnya dan perlakuannya kepadaku tetap tenang, sehingga dikit demi sedikit rasa grogi yang menyerangku mulai memudar. “Aku benar-benar puas Ric, kamu memang hebat”, pujinya. Ketika itu waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 20.00 malam. Dia hanya menjawab “Aku mencari penghasilan tambahan Ric”, jawabnya singkat.Mas Anggi makin sering pulang larut malam, bahkan pernah satu kali dia pulang dengan mulut berbau alkohol, jalannya agak sempoyongan, rupanya dia mabuk. Sampai saat ini kejadian ini tetap masih berulang. Dia menagih utang, dan aku hanya sanggup membayar setengah dari keseluruhan utangku.




















