Lalu pindah ke pangkal paha. Bokep Barat Ia terus mengelap pahaku. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Lalu pindah ke pangkal paha. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Tidak terlalu ayu. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Betul-betul keras.




















